Nama: Hilkhan faluti
Nim: 12001157
Biografi ust.hasan baharun.
Sekilas Biografi Habib Hasan Baharun
(Pendiri Ma‘had
Darullughah Wadda’wah,
Bangil,Pasuruan, Jawa Timur)
“Ustadz
Hasan adalah orang pertama yang membuka kembali hubungan antara Yaman dan
Indonesia setelah terputus puluhan tahun lamanya dan beliau yang mulai
mengirimkan santrinya untuk belajar di Yaman sehingga semua pahala orang yang
belajar keYaman akan kembali pahalanya kepada Al-Alim Al-Allamah Adda‘i
Ilallah Al-Ustadz Hasan Baharun.”
Demikian penuturan Habib Umar Bin hafidz di depan para santri dan ulama dalam
ziarohnya di Pondok Raci 2 tahun setelah wafatnya Habib Hasan Baharun.
Al Habib Hasan Baharun lahir di Sumenep pada tanggal 11 Juni
1934 dan merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari Al Habib Ahmad bin
Husein dengan Fathmah binti Ahmad Bachabazy. Adapun silsilah dzahabiyah yang
mulia dari beliau adalah Al Habib Hasan Bin Ahmad bin Husein bin Thohir bin
Umar Bin Baharun. Sejak kecil kedisiplinan dan kesederhanaan telah ditanamkan
oleh kedua orang tua beliau sehingga mengantarkannya tumbuh menjadi sosok
pribadi yang mempunyai akhlaq dan sifat yang terpuji.
Profil Habib Hasan Baharun, Sejarah Pendidikan Ust. Hasan
Baharun
Pendidikan agama selain diperoleh dari bimbingan kedua orang
tuanya ia dapatkan dari Madrasah Makarimul Akhlaq Sumenep dan dari kakeknya
yang dikenal sebagai ulama besar dan disegani di Kabupaten Sumenep yaitu Ustadz
Achmad bin Muhammad Bachabazy. Setelah kakeknya meninggal dunia beliau menimba
ilmu agama dari paman-pamannya sendiri yaitu Ust. Usman bin Ahmad Bachabazy dan
Ust. Umar bin Ahmad Bachabazy. Semangat belajar Ust. Hasan Baharun sejak kecil
memang dikenal rajin dan ulet, bahkan apabila bulan Ramadhan tiba beliau
belajar semalam suntuk, mulai sehabis tadarrus sampai menjelang shubuh.
Beliau belajar dan mendalami ilmu-ilmu agama khususnya ilmu
fiqih serta menjadi murid kesayangan Al-Faqih Al-Habib Umar Ba‘aqil Surabaya.
Beliau belajar dan mendalami ilmu-ilmu agama khususnya ilmu
fiqih serta menjadi murid kesayangan Al-Faqih Al-Habib Umar Ba‘aqil Surabaya.
Riwayat Pendidikan Formal Habib Hasan Baharun
Disamping pendidikan agama beliau juga menuntut pendidikan
ilmu umum mulai dari Sekolah Rakyat (SR / setingkat SD), Pendidikan Guru Agama
(PGA) 6 tahun dan hanya sampai di kelas 4 karena pindah dan melanjutkan ke SMEA
di Surabaya.
Profil Habib Hasan Baharun, Masa Remaja dan Pengalaman
Organisasi Ust. Hasan Baharun
Semasa remaja beliau senang berorganisasi baik Remaja Masjid
ataupun organisasi lainnya seperti Persatuan Pelajar Islam (PII) bahkan beliau
pernah diutus untuk mengikuti Muktamar I PII se-Indonesia yang diselenggarakan
di Semarang. Dan pernah menjabat Ketua Pandu Fatah Al Islam di Sumenep. Beliau
aktif pula di partai politik yaitu Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi
jurkam yang dikenal berani dan tegas menyampaikan kebenaran. Dan di Pasuruan
menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia ( MUI ) sampai akhir hayat
beliau.
Perjalanan dan Konsep Dakwah Ust. Hasan Baharun
Setelah menamatkan sekolah beliau sering mengikuti ayahnya
ke Masalembu untuk berda‘wah
sambil membawa barang dagangan. Keluarga Ustadz Hasan pada saat itu dikenal
ramah dan ringan tangan, apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya
disuruh membayar semampunya bahkan dibebaskan. Sifat-sifat inilah yang diwarisi
beliau yang dikenal apabila berdagang tidak pernah membawa untung karena
senantiasa membebaskan orang-orang yang tidak mampu membayarnya. Dan pada waktu
berkeliling menjajakan dagangan beliau dikenal suka membantu menyelesaikan
permasalahan dan konflik yang terjadi dimasyarakat serta senantiasa berusaha
mendamaikan orang dan tokoh-tokoh masyarakat yang bermusuhan.
Pada tahun 1966 beliau merantau ke Pontianak berda‘wah
keluar masuk dari satu desa ke desa yang lainnya dan melewati hutan belantara
yang penuh lumpur dan rawa-rawa namun dengan penuh kesabaran dan ketabahan
semua itu tidak dianggapnya sebagai rintangan . Dengan penuh kearifan dan
bijaksana dikenalkannya dakwah Islam kepada orang-orang yang masih awam
terhadap Islam.
Dakwah Habib Hasan dengan Ikhlas
Dan alhamdulillah dakwah yang beliau lakukan mendapat
sambutan yang cukup baik dari masyarakat ataupun tokoh-tokoh lainnya. Di setiap
daerah yang beliau masuki untuk berdakwah beliau senantiasa bersilaturahmi
terlebih dajhulu kepada tokoh masyarakat dan ulama/kyai setepat untuk
memberitahu sekaligus minta izin untuk berdakwah di daerah tersebut sehingga
dengan budi pekerti, akhlaq dan sifat-sifat yang terpuji itulah masyarakat
beserta tokohnya banyak yang simpati dan mendukung terhadap dakwah yang beliau
lakukan.
Keikhlasan Habib Hasan Baharun membawa beliau ke pedalaman
pedalaman daerah hingga orang pun tidak habis pikir, mengapa beliau mau untuk
berdakwah ke pedalaman, niat beliau tiada lain dan bukan adalah dakwah semata
mencari ridho Allah swt.
Berdagang yang beliau lakukan adalah untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya dan dijadikan sarana pendekatan untuk berdakwah kepada
masyarakat. Kedermawanan dan belas kasihnya kepada orang yang tidak mampu
menyebabkan dagangannya tidak pernah berkembang karena keuntungannya diberikan
kepada masyarakat yang tidak mampu serta membebaskan orang yang tidak mampu
membayarnya. Selain itu pula beliau mempunyai keahlian memotret dan cuci cetak
film yang beliau gunakan pula sebagai daya tarik dan mengumpulkan massa untuk
didakwahi, karena pengambilan hasil potretan yang beliau lakukan sudah
ditentukan waktunya, sehingga aabila mereka sudah berkumpul sambil menunggu
cuci cetak selesai waktu menunggu tersebut diisi dengan ceramah dan tanya jawab
masalah agama.
Habib Hasan Baharun Aktif dalam Organisasi
Selain berdakwah beliau aktif pula di partai politik yaitu
Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi jurkam yang dikenal berani dan tegas di
dalam menyampaikan kebenaran sehingga pada saat itu sempat diperiksa dan
ditahan. Namun pada saat itu masyarakat akan melakukan demonstrasi
besar-besaran apabila beliau tidak segera dikeluarkan dan atas bantuan pamannya
sendiri yang saat itu aktif di Golkar membebaskan beliau dari tahanan.
Dan tak lama setelah kejadian tersebut, sekitar tahun 1970
atas permintaan dan perintah dari ibundanya, beliau pulang ke Madura dan
disuruh untuk berdakwah di Madura atau di Pulau Jawa saja. Namun karena
kegigihan beliau selama 2 tahun masih tetap aktif datang ke Pontianak untuk
berdakwah walaupun telah menetap di Jawa Timur.
Pada tahun 1972 beliau mengajar di Pondok Pesantren
Gondanglegi Malang mengembangkan Bahasa Arab, sehingga pondok Gondanglegi pada
saat itu terkenal maju dalam bidang Bahasa Arabnya.
Cara Habib Hasan Baharun Mendidik Santri
–
Apabila seorang kyai sudah mendirikan pondok
maka dia harus rela meninggalkan semua aktifitas dan hobinya yang ada diluar
pondok yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam membina santrinya. Beliau
mengibaratkan seorang pengasuh pondok pesantren sebagai induk ayam yang sedang
mengerami telur, maka apabila sering meninggalkan sarangnya kemungkinan besar
telur tesebut tidak jadi menetas, dan telur tersebut akan busuk.
Cita –
Cita Besar Ust. Hasan Baharun
Beberapa bulan sebelum beliau wafat sering mengungkapkan
cita-cita besar beliau yaitu ingin membuat organisasi yang dapat menyatukan
Ummat Islam. Karena beliau berpendapat bahwa dengan persatuan Ummat Islam
banyak hal yang bisa dilakukan. Bahkan ketika ada perrtemuan Ulama di Jakarta
dan beliau berhalangan hadir beliau menitip surat kepada Ust Qosim Baharun yang
mewakilinya untuk membacakan surat tersebut sebagai usulan dari beliau yaitu
agar para ulama menggagas Organisasi Persatuan Habaib, Ulama, Kiyai, Santri dan
para simpatisan dalam ikatan satu wadah non politik yang tujuannya murni untuk
kepentingan Ummat Islam.
Bahkan beliau berjanji sanggup meninggalkan pondok dan
menyerahkan urusan pondok kepada putranya Al-Habib Zain Baharun sedangkan
beliau sendiri ingin bersilaturrrahmi ke para Ulama di seluruh nusantara untuk
mensosialisasikan ide besar dan mulia tersebut.